Sunday, September 21, 2008

Pemancing Cilik

(from friend)

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang
bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali
tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat
sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman
tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap
kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman
asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit.
Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan
hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba
mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si
anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan?
Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta
ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman
ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil
melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan
kepadamu, kenapa engkau tolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa
memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana
caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing
engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini.
Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing
ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai
untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan,
melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail
pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk
memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan
ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan
anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil
tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian
melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali,
melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail
dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya
bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya
begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar
anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih
adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada
tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar
memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang
hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik.
Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang
kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."

Pembaca yang budiman,

Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih kesuksesan
kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit, semua sederhana saja,
Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian mampu
memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal, terutama dengan
menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka kita akan bisa
mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan. Apalagi, jika semua
hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan penuh kesungguhan.

Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan kita secara konsisten,
maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita untuk menjadi ahli di
bidang yang kita kuasai. Sehingga, dengan profesionalisme yang kita
miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan membuahkan hasil yang
paling memuaskan.

Salam sukses, luar biasa!!!

Friday, April 04, 2008

Aneka Permainan Alkitab

Menebak tokoh Alkitab

Seorang pemain diminta ke luar ruangan, sementara anggota kelompok menetapkan dan memilih untuk membicarakan tentang seorang tokoh Alktiab. Setelah diberi cukup waktu, pemain itu dipanggil masuk. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mencoba menemukan siapa tokoh itu. Orang-orang lainnya mencoba menyembunyikan jawaban sedemikian rupa tanpa berbohong. Ketika nama tokoh itu akhirnya dapat diterka dengan tepat, maka anggota kelompok yang menyebabkan terkaan berhasil harus keluar ruangan. Kini ia menjadi penebak. Permainan dilanjutkan seperti tadi dan orang tersebut dipangil masuk.


Sandi Alkitab

Siapkanlah lima buah pernyataan mengenai suatu kota ataupun tokoh Alkitab. Bacalah pernyataan itu satu demi satu dan minta seorang peserta menebak tempat atau tokoh tersebut. Kalau ia berhasil menebak sesudah pernyataan pertama Anda bacakan, ia mendapat angka 100. Bila ia menebaknya dengan tepat sesudah pernyataan kedua Anda bacakan, ia mendapat angka 50. Yang ketiga angkanya 25, yang keempat 10, dan yang kelima 5 angka. Susunlah pernyataan tersebut sedemikian rupa sehingga kelihatannya semakin sukar.


Benda-benda Alkitab

Sebutkan nama benda penting dalam sebuah cerita Alkitab dan mintalah pemain menebak setiap cerita itu. Sering sekali ada beberapa kemungkinan yang berhubungan denga suatu benda tertentu. Misalnya, "batu" berhubungan dengan cerita Musa, Daud, Stefanus, maupun peristiwa-persitiwa lain. Anda dapat dengan mudah memperoleh nama-nama benda dalam konkordansi.


Sumber:

Belajar Alkitab Melalui Permainan, Ronald F. Keeler, , halaman 71 -- 72, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997.

Kegiatan Kreatif dalam Sekolah Minggu

Melatih anak untuk menemukan atau mengembangkan potensinya dengan berbagai kegiatan kreatif tidak hanya dapat dilakukan di rumah atau sekolah formal saja. Sekolah minggu pun dapat berperan aktif dalam hal ini. Kegiatan kreatif dalam sekolah minggu tentu saja bukan sekadar menggali potensi diri anak, tetapi yang terpenting bagaimana anak-anak belajar tentang Tuhan dan kebenaran firman-Nya melalui kegiatan tersebut.

Berikut ini kegiatan-kegiatan kreatif yang bisa dilakukan di kelas sekolah minggu.

Mengolah kertas warna-warni menjadi bunga
Persiapan: kertas warna, lem kertas, gunting, lidi, atau kawat.

Kegiatan ini bisa dilakukan saat pelajaran yang bertemakan alam, ciptaan Tuhan, atau keindahan. Berikan saja kertas warna kepada anak-anak, juga peralatan yang dibutuhkan untuk membuat bunga-bunga yang mereka inginkan. Guru dapat membuat berbagai macam contoh bunga terlebih dahulu, tetapi jangan arahkan anak untuk benar-benar meniru contoh yang dibuat oleh guru. Katakan kepada anak bahwa di dalam dunia ada berbagai macam bentuk bunga yang Tuhan ciptakan dan mereka pun boleh membuat bermacam-macam bunga dengan peralatan seadanya. Hal yang terpenting dari kegiatan ini bukanlah hasil, melainkan proses kreatif yang dilakukan anak dalam membuatnya. Kegiatan kreatif ini cocok untuk anak kelas kecil.

Melukis
Persiapan: kertas atau kain dan cat air.

Saat guru selesai menyampaikan kisah-kisah dalam Alkitab, guru dapat meminta anak menceritakan kembali cerita itu melalui sebuah lukisan. Misalnya, jika bercerita tentang Yunus di perut ikan, mereka boleh menggambar ikan, atau laut, atau sebuah perahu. Biarkan anak melukis sesuka hatinya di kertas atau kain yang sudah disediakan dan mencampurkan warna untuk menghasilkan warna yang sesuai dengan imajinasinya. Kegiatan kreatif ini cocok untuk anak kelas kecil.

Menggambar berdasarkan pola tertentu
Persiapan: bentuk gambar tertentu (misalnya, bulatan, segitiga, garis lurus, dll.)

Kegiatan ini bisa dilakukan untuk anak kelas besar. Buat bentuk gambar tertentu dalam sebuah kertas yang dibagikan kepada anak-anak. Misalnya, di kertas itu sudah tergambar tiga bulatan besar. Tugas anak adalah membuat sebuah gambar atau lukisan melalui gambar yang sudah ada sebagai dasarnya. Harus ada waktu yang diberikan, misalnya sepuluh menit. Kegiatan ini bisa dilakukan setelah guru menyampaikan firman Tuhan mengenai menggunakan waktu sebaik mungkin, kerajinan, atau mengenai suatu benda/tokoh Alkitab yang dapat digambarkan melalui dasar yang telah disiapkan.

Tanya jawab
Permainan ini menggali kemampuan anak untuk berpikir ke depan, mengembangkan gagasannya, dan memunculkan berbagai macam ide. Permainan ini dimulai dengan guru menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang agak di luar biasanya. Misalnya, seperti pertanyaan-pertanyaan di bawah ini yang bisa dikembangkan lagi oleh guru.

Apa akibatnya jika Tuhan tidak menciptakan tumbuh-tumbuhan di dunia ini?
Apa akibatnya jika kamu hanya hidup sendirian di dunia ini?
Apa akibatnya jika tidak pernah ada hujan?

Kegiatan kreatif ini cocok untuk anak kelas besar karena menuntut kemampuan baca-tulis dari anak.

Koreografi
Kegiatan ini bisa dilakukan dalam acara pujian di sekolah minggu. Pilihlah sebuah lagu yang disukai murid-murid. Jika murid dalam kelas sedikit, masing-masing bisa diminta berdiri di tempat atau di depan kelas untuk menciptakan tariannya sendiri. Jika dalam kelas ada banyak murid, bisa diwakili oleh beberapa anak yang benar-benar mau, bukan dipaksa. Permainan ini akan mendorong kreativitas anak dalam aspek psikomotoriknya.

Jangan lupa untuk memberikan pujian, bisa dengan tepuk tangan, agar anak bertambah semangat dalam menciptakan kreasinya.

Selama mengadakan kegiatan kreatif di sekolah minggu satu hal yang harus selalu diingat ialah tidak memaksa anak melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Biarkan mereka melakukannya dengan gembira. Yang terpenting dari kegiatan ini adalah proses kreatif yang dilalui anak, jadi jangan berorientasi kepada bagus atau tidaknya hasil.

Selamat berkreasi!

Buku acuan:


Choun, Robert J. dan Michael S. Lawson. 1993. "The Complete Handbook for Children`s Ministry: How to Reach and Teach the Next Generation Form Birth to Age 12".Nashville: Thomas Nelson Publishers.
Clark, Robert E., Joanne Brubaker, dan Roy B. Zuck. 1986. "Childhood Education in the Church". Chicago: Moody Press.
Safaria, Triantoro. 2005. "Creativity Quotient: Panduan Mencetak Anak Super-Kreatif". Jogjakarta: Platinum Diglossia Baru.

PERMAINAN SEKOLAH MINGGU

TEBAK-TEBAKAN (KELAS BESAR)

Persiapan:

Beberapa potongan kertas yang bertuliskan satu ayat Alkitab.

Cara bermain:

Para peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kemudian pemimpin permainan memanggil salah seorang dari setiap kelompok maju ke depan untuk melihat ayat Alkitab yang ditulis pada sehelai kertas. Masing-masing mereka harus membuat gerakan-gerakan untuk menerangkan ayat tersebut, tetapi tidak boleh mengeluarkan suara.

Pembimbing memberi batas waktu (misalnya satu setengah menit) kepada kedua wakil kelompok untuk menawar. Apabila ayat tersebut belum juga dapat ditebak, setiap kelompok diberi kesempatan untuk menawar sebanyak tiga kali agar waktunya diperpanjang.

Tujuan:

Supaya kita menyimpan janji Tuhan di dalam hati sehingga kita tidak berdosa kepada-Nya (Mazmur 119:11).

Sumber:

100 Permainan dan 500 Kuis Alkitab, Dr. Mary Go Setiawani dan Rachmiati, , halaman 74 - 75 dan 168, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1994.

Thursday, March 27, 2008

Would you change??

Some people will change when they see the light. Others change only when they feel the heat.

Stephen R. Yarnall, MD, Fellow of the American College of Cardiology.
Unpleasant Changes--What To Do.
When things don't go our way, we typically go through 10 stages which are a normal part of the coping and healing process.

1. Denial--"It can't be," It can't happen to me," "It's not true".... The first stage of reaction to any sudden, unexpected event tends to be denial. Denial is normal if it lasts a short time, but persistent denial is unhealthy because it blocks further growth and healing.

2. Anger/Blame--"Whose fault is it?," "This makes me mad," "This isn't fair," "Why me?" The second stage of reaction looks backward in hopes of finding the cause and someone or something to blame it on. Although nothing can be done at this point to change the past, it's nevertheless a normal response. Like the stage of denial before it, the anger/blame stage is unhealthy if it persists for an unreasonable amount of time.

3. Despair--This stage tends to be characterized by tears, negative and hopeless/helpless thoughts, and a feeling of total emptiness and loss. Sleep and eating disturbances are common as the "reality" of the situation sets in. Relationships with other people can become more difficult at this time, but understanding and compassion must be given and accepted if one is to move beyond this stage.

4. Perspective--In this stage, the individual begins accepting the change and is no longer caught up in denial, anger, blame, or despair. The problem is seen in its proper perspective. Although the sense of loss may be significant, the individual does not feel that "all is lost."

5. Relationships--Coming out of the withdrawal and isolation that is inherent in the previous stages, the individual is able to talk and relate to other people and participate in normal activities.

6. Spiritual Changes--The individual's relationship with the spiritual side of life is strengthened as a result of having lived through (and survived) the experience.

7. Acceptance--This stage involves the restoration of self-esteem, and the acceptance of the consequences and boundaries of the new reality. 8. Humor--Smiles, laughter, and a sense of humor return to the individual and help in the healing process. There's a renewed sense of joy in life.

9. Activity and Action--Where once the individual had been restricted or immobilized by the change, he or she now returns to activity, action, and improved productivity. Travel and group activities become more interesting.

10. New Goals--In this final stage, the individual is able to focus on the positive aspects of whatever change occurred, and on new goals and activities. He or she takes comfort in Ashley Brilliant's line, "I may not be totally perfect, but parts of me are excellent!" When faced with an unexpected, unpleasant change, you may not go through all 10 of these stages in this order, but it helps to keep them in mind. While it can seem as if life changes nearly drown us at times, by and by we see that it's only through meeting the challenges of change that we can grow.

EDUCATION....

Education is learning what you didn't even know you didn't know.

Education is a better safeguard of liberty than a standing army.

Good teaching is one-fourth preparation and three-fourths pure theatre.

The roots of education are bitter, but the fruit is sweet.

CHANGE...!!!

If you don't like something change it;
if you can't change it,
change the way you think about it.